
Virus Human papillomavirus (HPV) masih mengintai banyak orang. Beberapa dari mereka masih belum mengetahui pasti bagaimana pencegahan dari virus HPV. Vaksin HPV merupakan salah satu intervensi yang direkomendasikan untuk pengendalian kanker serviks di seluruh dunia. Selain kanker serviks dan juga dapat mencegah beberapa jenis kanker lain yang ditimbulkan dari virus ini.
Pemerintah Indonesia turut menggalakkan vaksinasi HPV sebagai bagian dari Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim, dengan target 90 persen anak perempuan dan laki-laki mendapatkan perlindungan sebelum usia 15 tahun pada tahun 2030. Program ini diintegrasikan melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada bulan Agustus dan November setiap tahunnya yang menyasar siswa kelas 5 dan 6 SD dengan dua dosis di tahap awal.
Lalu bagaimana sebenarnya cara kerja vaksin HPV di dalam tubuh? Apakah dosis yang dibutuhkan harus banyak? Gardasil berapa yang sebaiknya diberikan? Apakah benar efektif dalam mencegah kanker serviks? Berikut penjelasan lengkapnya.
Cara Kerja Vaksin HPV
Vaksin HPV bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi terhadap virus HPV. Vaksin menggunakan partikel mirip virus (virus-like particles/VLP) yang menyerupai permukaan HPV, tetapi tidak mengandung DNA virus, sehingga tidak dapat menginfeksi tubuh maupun menyebabkan kanker.
Setelah vaksin diberikan, antigen akan dikenali oleh sistem kekebalan tubuh dan merangsang pembentukan antibodi. Ketika tubuh kemudian terpapar HPV, antibodi tersebut dapat mengenali dan mengikat virus sehingga virus tidak dapat menginfeksi sel. Vaksin HPV berfungsi mencegah infeksi HPV, bukan mengobati infeksi yang sudah terjadi maupun penyakit yang telah disebabkan oleh virus tersebut.
Mengenal Jenis dan Tingkatan Vaksin HPV
Terdapat beberapa jenis vaksin HPV yang dibedakan berdasarkan jumlah tipe virus yang dapat dicegahnya, atau biasa disebut valensi:
- Vaksin bivalen, melindungi dari HPV tipe 16 dan 18, dua tipe risiko tinggi penyebab utama kanker serviks
- Vaksin quadrivalent (empat valensi), seperti gardasil 4 melindungi dari HPV tipe 6, 11, 16, dan 18, sekaligus mencegah kutil kelamin selain kanker serviks
- Vaksin nonavalent atau 9-valent (Gardasil 9), merupakan jenis vaksin dengan cakupan perlindungan terluas, melindungi dari sembilan tipe HPV yaitu tipe 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58
Semakin tinggi valensinya, semakin luas jenis HPV yang dapat dicegah oleh vaksin tersebut.
Dosis Vaksin HPV Sesuai Usia
Jumlah dosis vaksin HPV yang dibutuhkan seseorang berbeda-beda, tergantung usia saat pertama kali menerima vaksin:
- Usia 9–15 tahun Umumnya direkomendasikan menerima 2 dosis vaksin HPV Dosis kedua diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis pertama Apabila jarak antara dosis pertama dan kedua kurang dari 5 bulan, diperlukan dosis ketiga sebagai tambahan
- Usia 15–26 tahun Direkomendasikan menerima 3 dosis vaksin HPV, dengan jadwal pada bulan ke-0, bulan ke-1 sampai 2, dan bulan ke-6. Skema 3 dosis ini juga berlaku bagi pasien dengan kondisi imunokompromi (misalnya penderita HIV atau yang sedang menjalani terapi imunosupresif), tanpa memandang usia.
- Usia 27–45 tahun Vaksinasi pada rentang usia ini umumnya diputuskan melalui konsultasi dan diskusi bersama dokter, karena sebagian besar orang dewasa di kelompok usia ini sudah pernah terpapar HPV, sehingga manfaat vaksinasi cenderung lebih terbatas
Meski begitu, vaksinasi tetap dapat bermanfaat bagi individu yang belum pernah terpapar HPV, maupun mereka yang berisiko mengalami paparan HPV baru dalam waktu dekat, misalnya karena akan memiliki pasangan baru
Apabila salah satu jadwal dosis terlewat, vaksinasi tidak perlu diulang dari awal. Cukup dilanjutkan sesegera mungkin.
Seberapa Efektif?
Program vaksinasi HPV terbukti efektif dalam mencegah kanker serviks, termasuk di Indonesia, dengan angka kejadian kanker serviks yang mampu ditekan hingga 90 persen berkat vaksinasi. Namun perlu dipahami, vaksin HPV hanya bekerja mencegah infeksi HPV yang terjadi setelah vaksin diberikan dan tidak dapat mengobati atau mencegah kanker serviks yang sudah terlanjur terjadi sebelumnya.
Semakin dini vaksinasi dilakukan, semakin besar pula manfaat perlindungannya. Sejumlah studi menunjukkan, perempuan yang di vaksin HPV sebelum usia 17 tahun memiliki risiko terkena kanker serviks 88% lebih rendah dibandingkan yang belum melakukan vaksin. Bahkan, penelitian lain mencatat penurunan risiko kanker serviks hingga 86 persen pada perempuan yang divaksinasi sebelum usia 16 tahun, dan 68% pada rentang usia 17–19 tahun. Selain itu, vaksinasi bahkan dengan satu dosis saja juga terbukti menurunkan kemungkinan terjadinya sitologi serviks abnormal (perubahan sel-sel leher rahim yang menjadi tanda awal risiko kanker).
Jadwal Vaksinasi HPV di RS KORPRI Pura Raharja
RS KORPRI Pura Raharja kembali membuka layanan vaksinasi pada 13 dan 27 September 2026. Pendaftaran dapat dilakukan melalui WhatsApp Customer Service RS KORPRI Pura Raharja di nomor 0888 0502 8175. Kesempatan ini terbuka untuk anda bagi ASN, keluarga, maupun relasi. Jangan lewatkan kesempatan ini sebagai salah satu langkah pencegahan terhadap infeksi HPV dan penyakit yang dapat ditimbulkannya.
Ditinjau oleh dr. Dito Oktawijaya Pratama, M.Ked.Klin., Sp.OG.
Referensi
- Kjaer, S. K., Dehlendorff, C., Belmonte, F., & Baandrup, L. (2021). Real-World Effectiveness of Human Papillomavirus Vaccination Against Cervical Cancer. National Center for Biotechnology Information.
- Mo, Y., Ma, J., Zhang, H., Shen, J., Chen, J., Hong, J., Xu, Y., & Qian, C. (2022). Prophylactic and Therapeutic HPV Vaccines: Current Scenario and Perspectives. Frontiers in Cellular and Infection Microbiology, 12, Article 909223.
- National Cancer Institute. (2026). Human Papillomavirus (HPV) Vaccine. NCI Causes and Prevention.
- Radji, M. (2009). Vaksin Kanker. Majalah Ilmu Kefarmasian, 6(3), 109-118.
- Soca Gallego, L., Dominguez, A., & Parmar, M. (2024). Human Papilloma Virus Vaccine. StatPearls Publishing.
- Zakiyah, H. (2023). Efektivitas Program Vaksinasi HPV dalam Pencegahan Kejadian Kanker Serviks pada Perempuan di Indonesia.



